WhatsApp Image 2025-10-14 at 20.57.04

Bandar Lampung, 15 Oktober 2025 – Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid, menjadi narasumber utama dalam kegiatan Bedah Buku yang diselenggarakan secara daring melalui platform virtual oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR).
Acara online ini menghadirkan mahasiswa, dosen, dan pemerhati sejarah dari berbagai daerah, menjadikannya ruang diskusi nasional yang terbuka dan interaktif tanpa batas geografis.

Diskusi yang berlangsung pada Rabu (15/10) ini membedah karya terbaru Dr. Abd Rahman Hamid berjudul “Makassar Mendunia: Entrepot Rempah dalam Jaringan Maritim Nusantara Abad XVI–XVII” yang diterbitkan oleh Pustaka Larasan pada Agustus 2025. Buku setebal 222 halaman ini ditulis bersama Rifal, dan menjadi hasil riset panjang mengenai peran strategis Makassar dalam jejaring perdagangan rempah Nusantara.

Dalam paparannya, Dr. Abd Rahman Hamid menjelaskan bahwa buku ini menyoroti bagaimana lingkungan geostrategis dan sejarah berperan penting terhadap pertumbuhan jaringan maritim Makassar pada abad ke-15 hingga ke-17. “Kami ingin menunjukkan bagaimana pelabuhan Makassar tumbuh menjadi entrepot rempah Nusantara dan menjadikannya kota dunia pada masa itu,” jelasnya.

Penulis buku ini juga menggunakan pendekatan struktural ala Fernand Braudel, dengan menjadikan pelabuhan sebagai titik tolak pembentukan jaringan maritim. Analisisnya diperkuat oleh konsep Leong Sau Heng tentang klasifikasi pelabuhan, seperti feeder points, collecting centres, dan entrepôts. Dalam konteks ini, Makassar diposisikan sebagai pelabuhan utama (entrepot) yang berperan sentral dalam distribusi komoditas rempah ke berbagai kawasan.

Dr. Abd Rahman Hamid juga menekankan peran sumber-sumber lokal seperti Lontar Raja Gowa dan Tallok, Sejarah Kerajaan Tallo, serta Hukum Laut Amanna Gappa. Ia menyebut, “Salah satu tokoh penting dalam sejarah Makassar, Karaeng Pattingaloang, mencerminkan bagaimana gairah ilmu pengetahuan tumbuh pesat di kota pelabuhan ini.”
Sebagai pembahas, Dr. La Ode Rabani, dosen Departemen Ilmu Sejarah FIB Unair, memberikan apresiasi atas kontribusi buku tersebut terhadap historiografi maritim Indonesia. Ia menyebut karya ini sebagai “contoh bagaimana penelitian sejarah maritim bisa dikemas dengan baik dan menarik, tanpa kehilangan kedalaman analisis.”

Dr. La Ode Rabani menambahkan bahwa buku ini membuka ruang diskusi baru mengenai hubungan antara Makassar dan dunia, sekaligus memantik pertanyaan menarik: “Apakah dunia hadir di Makassar, atau justru Makassar yang memengaruhi dunia?”

Selain memaparkan temuan utama, Dr. Abd Rahman Hamid juga menyoroti pentingnya konsep pelabuhan bebas dan perebutan jalur rempah dalam menjelaskan dinamika geopolitik abad ke-17. “Keberhasilan penguasa Makassar dalam memanfaatkan jalur rempah untuk membangun pelabuhannya sebagai entrepot dan kota dunia justru memicu ambisi kekuatan asing, terutama Belanda,” tuturnya, merujuk pada peristiwa perang tahun 1666–1669 yang menandai akhir kedaulatan maritim Makassar.

Diskusi berlangsung hangat dengan kehadiran mahasiswa dan akademisi dari berbagai universitas. Para peserta antusias menanyakan relevansi penelitian sejarah maritim dengan isu kontemporer perdagangan global dan konektivitas laut modern.

Kegiatan ini merupakan diskusi yang kelima dari buku ini, setelah sebelumnya di Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, dan UIN Alauddin Makassar. Selain itu juga sebagai komitmen akademisi sejarah untuk terus menghidupkan kajian maritim Nusantara, serta memperkuat jejaring keilmuan antarperguruan tinggi di Indonesia.