Bandar Lampung — Sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung resmi diterjunkan untuk mengikuti kegiatan Penguatan Kompetensi Lapangan (PKL) berdasarkan Surat Tugas Nomor: B-825/UN.16/DA/PP.00.910/2025, yang ditandatangani oleh Dekan Fakultas Adab, Dr. H. Ahmad Bukhari Muslim, Lc., M.A.
Kegiatan PKL ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 13 Oktober hingga 14 November 2025, dan menjadi bagian penting dari proses akademik mahasiswa SPI dalam memahami langsung dinamika sejarah, budaya, arsip, dan peradaban melalui interaksi lapangan.
Berdasarkan lampiran surat tugas tersebut, mahasiswa dibagi ke dalam empat lokasi penempatan strategis, yaitu Museum Transmigrasi, Museum Lampung, Perpustakaan Daerah, dan Dinas Sosial Bidang Kepahlawanan. Setiap lokasi didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang telah ditunjuk oleh program studi.

Kelompok pertama ditempatkan di Museum Transmigrasi di bawah bimbingan Aan Budianto, S.Pd., M.A. Mereka terdiri dari Dhana Alfia Melati, Maylatul Luvi, M. Akhdan Harizan, M. Vanji Ammbiya, Ayub Harahab, dan M. Irsyad Aziz. Di museum ini, para mahasiswa akan belajar membaca jejak sosial transmigrasi sebagai narasi sejarah pembangunan sosial di Indonesia. Selain itu, Prodi SPI dan pihak Pengelola Museum Transmigrasi juga berencana melakukan kerjasama dalam bidang pembuatan film dokumenter sejarah transmigrasi guna menambah konten sejarah transmigrasi dengan sajian visual.
Sementara itu, Museum Lampung menjadi lokasi kedua, dengan Dr. Abd Rahman Hamid sebagai dosen pendamping. Mahasiswa yang ditempatkan di sini adalah Fajar Firdaus, Rizqi Kurniawan, Wisnu Febriano, dan Mushab Al-Muqri. Mereka akan berinteraksi langsung dengan koleksi artefak dan dokumentasi sejarah masyarakat Lampung sebagai bahan narasi sejarah publik.

Penempatan berikutnya adalah Perpustakaan Daerah, dibimbing oleh Uswatun Hasanah, M.Hum. Kelompok ini terdiri dari Reihan Maulana Rajabbi, Jisca Alyah, Yanti Sari, dan Masrokah. Mereka akan mempelajari pengelolaan arsip sejarah, literasi dokumen, dan distribusi pengetahuan kepada masyarakat.

Kelompok terakhir ditempatkan di Dinas Sosial Bidang Kepahlawanan, dengan pendampingan dari Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum. Kelompok terakhir ditempatkan di Dinas Sosial Bidang Kepahlawanan, dengan pendampingan dari Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum. MKelompok yang bertugas di lembaga ini adalah Dimas Puja Kusuma, Jihan Nur Azizah, Gilang Kurniawan, Mutiara Agustina, dan Fariq Syah Putra. Mereka akan menggali data kepahlawanan daerah sebagai bagian dari narasi historiografi lokal dan rekonstruksi ingatan kolektif masyarakat.

Sebelum pemberangkatan, Kaprodi Sejarah Peradaban Islam, Dr. Abd Rahman Hamid, memberikan pengarahan dan berpesan agar mahasiswa menjaga nama baik almamater dan menunjukkan etika akademik selama berada di lembaga mitra. Ia menekankan pentingnya disiplin mengikuti aturan jam kerja instansi dan mengingatkan agar mahasiswa menempatkan diri sebagai peserta akademik yang datang untuk belajar dan berkontribusi tanpa terlibat dalam urusan internal lembaga. Ia juga menegaskan bahwa PKL harus menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah dari hasil pengamatan lapangan yang nantinya akan diarahkan untuk publikasi. Selain itu, Kaprodi mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan sesama peserta dan tidak ragu berkonsultasi dengan pendamping jika ada tugas yang belum dipahami. “Jangan bekerja tanpa mengerti, karena kesalahan kecil di lapangan bisa berdampak besar,” ujarnya menutup pengarahan.
Para dosen pembimbing lapangan menyatakan kesiapan mendampingi mahasiswa dan memastikan bahwa PKL ini tidak hanya menghasilkan laporan, tetapi juga menciptakan pengalaman intelektual dan jejaring kebudayaan yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan Sejarah Peradaban Islam.
Dengan diterjunkannya mahasiswa ke 4 Lembaga tersebut, Prodi SPI menegaskan komitmennya untuk membentuk lulusan yang tidak hanya mahir secara teoretis, tetapi juga mampu membaca realitas sejarah secara langsung, membangun narasi, serta berkontribusi bagi pelestarian memori kolektif bangsa.
