aifaceswap-cb4264e320d09666ba3a679a167f6465

Bandar Lampung – Sebanyak 42 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (UNILA) mengikuti Pelatihan Pembuatan Proposal Riset dan Artikel Ilmiah yang berlangsung pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan yang digelar di lingkungan FKIP UNILA ini menghadirkan pemateri Aan Budianto, S.Pd., M.A., dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung. Pelatihan dibawakan dengan pendekatan interaktif dan dipandu oleh moderator Bahtiar Afwan, M.Pd., dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNILA.

Dalam pemaparannya, Aan Budianto, S.Pd., M.A. mengusung materi bertajuk paradigma riset sejarah transformatif. Ia menjelaskan bahwa paradigma ini menjadi pendekatan penting bagi mahasiswa sejarah untuk tidak sekadar merekonstruksi masa lalu, melainkan juga menjawab problematika kekinian. “Riset sejarah transformatif berusaha menemukan solusi praktis dari peristiwa-peristiwa masa lalu, sehingga sejarah tidak berhenti sebagai narasi, tetapi menjadi alat perubahan sosial,” ujar Aan di hadapan peserta.

Lebih lanjut, pemateri menegaskan bahwa paradigma tersebut lahir untuk menjawab tantangan terhadap sejarah sebagai ilmu yang selama ini kerap dipandang hanya mempelajari peristiwa lampau. Melalui pendekatan transformatif, riset sejarah justru mampu memberi pemaknaan terhadap kondisi masa kini sekaligus merumuskan arah pembangunan di masa depan. Hal ini selaras dengan kebutuhan mahasiswa Pendidikan Sejarah yang dituntut menghasilkan karya ilmiah aplikatif dan kontekstual.

Kegiatan ini juga dirancang sebagai riset coaching bagi mahasiswa yang telah memiliki judul penelitian. Dalam sesi pendampingan, Aan Budianto bersama tim membantu mahasiswa mengarahkan riset mereka agar lebih terstruktur, baik dari sisi konseptual maupun metodologis. Para peserta terlihat antusias mengajukan pertanyaan seputar kerangka berpikir, pemilihan metode, serta tantangan lapangan yang kerap dihadapi dalam penelitian sejarah.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga dipandu secara langsung merumuskan judul penelitian sejarah yang tepat. Aan Budianto menekankan bahwa sebuah judul riset yang baik setidaknya harus memuat konsep yang jelas, variabel penelitian, lokasi, serta waktu penelitian. “Yang tidak kalah penting adalah menegaskan urgensi atau gap penelitian. Ini menjadi fondasi utama agar riset tidak tumpang tindih dan memiliki kontribusi nyata,” tambahnya.

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNILA dan Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung. Kesepakatan ini menjadi awal kolaborasi akademik berkelanjutan, meliputi pertukaran sumber belajar, riset bersama, serta penguatan metodologi sejarah di kedua institusi. Para mahasiswa berharap kegiatan serupa rutin digelar untuk memperkaya wawasan dan keterampilan riset sejarah yang inovatif dan transformatif.