Screenshot
Bandar Lampung, 9 Oktober 2025 — Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Proposal Riset dan Artikel Ilmiah Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah”. Kegiatan ini menghadirkan Aan Budianto, S.Pd., M.A., dosen Sejarah Peradaban Islam dari UIN Raden Intan Lampung, sebagai pemateri utama.

Pelatihan yang berlangsung pada Kamis, 9 Oktober 2025, bertempat di Gedung J7 FKIP Unila, diikuti oleh 40 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah. Acara ini dimoderatori oleh Bahtiar Afwan, M.Pd., dosen FKIP Unila yang turut membuka jalannya diskusi dengan hangat dan interaktif.
Dalam pemaparannya, Aan Budianto mengawali sesi dengan memberikan insight kepada peserta mengenai peran sejarah yang transformatif. Ia menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dipahami hanya sebagai narasi nostalgia masa lalu, tetapi harus menjadi pendekatan ilmiah yang mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan kekinian.
“Mahasiswa pendidikan sejarah memiliki tugas besar. Kalian bukan hanya mempelajari masa lalu, tapi juga menafsirkan nilai-nilai sejarah untuk menjawab tantangan zaman dan memberi arah bagi masa depan,” ujar Aan dalam sesi pembukaannya.
Lebih lanjut, Aan menekankan bahwa mahasiswa pendidikan sejarah, yang juga dibekali ilmu kependidikan, harus memiliki kemampuan reflektif dan kritis dalam melihat relasi antara masa lalu dan realitas masa kini. Ia mencontohkan bahwa guru sejarah di masa depan harus mampu mentransformasikan nilai-nilai masa lalu agar dapat menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Selain membahas konsep sejarah dan peranannya, Aan juga memberikan materi praktis mengenai penulisan proposal riset, struktur artikel ilmiah, dan manajemen referensi ilmiah menggunakan berbagai perangkat digital. Peserta tampak antusias mengikuti sesi ini dengan aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman dalam menulis karya ilmiah.
Di akhir sesi, Aan Budianto — yang juga merupakan alumni Pendidikan Sejarah Universitas Lampung angkatan 2007 — memberikan pesan inspiratif kepada para mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa kegiatan riset bukan semata-mata syarat akademik untuk kelulusan, tetapi latihan berpikir ilmiah agar tidak mudah terjebak pada arus informasi dan dogma yang dapat menggerus kesadaran sejarah bangsa.
“Riset adalah cara kita belajar berpikir jernih dan kritis. Dengan riset, kita tidak mudah terombang-ambing oleh wacana, tetapi bisa memaknai sejarah sebagai kekuatan untuk membangun masa depan,” tutupnya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta dan dosen pendamping. Melalui pelatihan tersebut, diharapkan mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Unila semakin siap menulis karya ilmiah yang berkualitas serta berkontribusi dalam pengembangan pendidikan sejarah di Indonesia.


