Pesawaran, 2 Desember 2025 — Museum Ketransmigrasian Provinsi Lampung menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Raden Intan Lampung yang mengikuti Seminar Kajian Koleksi dan Perubahan Sosial pada Masyarakat Transmigrasi. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Ir. Anshori Djausal, M.T. dari TACB Provinsi Lampung dan I Made Giri Gunadi, S.S., M.Si., arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Sumbagsel. Diskusi dipandu oleh moderator Ni Putu Galih Pratiwi, M.Hum.
Dalam paparannya, Anshori Djausal menguraikan dinamika sejarah transmigrasi di Lampung sejak era Politik Etis Belanda hingga masa kemerdekaan. Ia menjelaskan bahwa konsep migrasi ke Lampung telah dimulai sejak kolonisasi awal abad ke-20 di mana pemerintah Belanda mengirimkan ratusan keluarga dari Jawa ke Gedong Tataan. Anshori menekankan bahwa proses pembauran antara masyarakat lokal dan transmigran telah melahirkan identitas sosial baru di Lampung. Ia memaparkan bahwa “generasi kedua dan ketiga dari transmigran bahkan sudah mulai tidak dapat berbahasa Jawa… transmigran dan penduduk lokal sejatinya telah bersintesa dalam kebudayaan baru” yang menggabungkan unsur Jawa, Lampung, dan budaya nasional. Hal ini menunjukkan bagaimana transmigrasi menghasilkan transformasi sosial-budaya yang tidak hanya menyangkut relasi antar kelompok, tetapi juga praktik sehari-hari dan pola hidup masyarakat.
Sesi berikutnya menampilkan kajian mendalam dari I Made Giri Gunadi mengenai koleksi peralatan rumah tangga masyarakat transmigrasi yang tersimpan di Museum Ketransmigrasian. Ia menjelaskan penerapan metode Significance 2.0 untuk menilai nilai penting koleksi museum melalui sepuluh tahapan, mulai dari research hingga action. Menurutnya, metode ini penting agar museum dapat “menggali sebanyak mungkin informasi berhubungan dengan koleksi… untuk memberi pemahaman dan penggambaran pada sebuah koleksi” serta menentukan kelayakan koleksi dipamerkan kepada publik.
Made juga memaparkan sejumlah koleksi penting seperti setrika arang, wajan besi, kukusan bambu, lumpang–alu, dan anglo besi, yang semuanya merupakan peralatan tradisional yang dibawa dan digunakan masyarakat transmigrasi sejak masa kolonisasi hingga pascakemerdekaan. Misalnya, setrika arang yang “dipopulerkan sejak masa VOC” serta lumpang–alu yang memiliki makna filosofis sebagai simbol kebersamaan, kesuburan, dan gotong royong dalam budaya tradisional Jawa.
Antusiasme peserta tampak dari diskusi interaktif yang berlangsung, terutama saat mahasiswa meninjau langsung koleksi museum sambil mempraktikkan langkah kajian koleksi yang dijelaskan narasumber. Seminar ini tidak hanya dihadiri mahasiswa Prodi SPI, tetapi juga mahasiswa dari Magister Bahasa Lampung Universitas Lampung, Universitas Muhammadiyah Metro, Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Lampung, serta Prodi PGSD UMPRI. Keikutsertaan berbagai perguruan tinggi menjadikan kegiatan ini sebagai ruang akademik interdisipliner yang mempertemukan beragam perspektif dalam memahami transmigrasi sebagai fenomena sejarah, sosial, dan budaya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pemahaman komprehensif tentang bagaimana transmigrasi membentuk struktur sosial Lampung serta bagaimana museum bekerja untuk melestarikan jejak sejarah tersebut melalui kajian koleksi yang sistematis. Seminar berakhir dengan pesan bahwa museum bukan sekadar ruang penyimpanan benda, melainkan media edukasi yang menjembatani masa lalu dengan generasi masa kini.
#AMS
