Lampung, 17 Juli 2025. Suasana di ruang sidang Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung terasa hangat sekaligus sakral pada Kamis pagi, 7 Juli 2025. Di hadapan tim penguji yang terdiri dari Ketua Sidang Dr. Ahmad Basyori,, Sekretaris Sidang Uswatun Hasanah, M. Hum, Penguji Utama Dr. H. Wahyu Iryana, serta di bawah bimbingan Aan Budianto, S.Pd., M.A., dan Agus MS, M.Hum, seorang mahasiswa asing asal Patani, Thailand Selatan, Husen Ismae, resmi mencetak sejarah baru dalam dunia akademik kampus tersebut. Ia bukan hanya mempertahankan skripsinya yang berjudul “Perkembangan Organisasi Mahasiswa Muslim Melayu Thailand Selatan (Patani) di Lampung”, tetapi juga mengukir jejak sebagai mahasiswa asing pertama di Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung yang lulus sidang munakhosah dengan pembahasan yang dinilai relevan, tajam, dan penuh daya reflektif.
Husen bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia datang ke Indonesia pada 2019 dengan membawa harapan, idealisme, dan tanggung jawab besar sebagai bagian dari komunitas minoritas Melayu Muslim dari wilayah konflik berkepanjangan di Thailand Selatan, yakni Patani. Di tanah Lampung, ia tak hanya berjuang untuk menuntaskan studinya, tetapi juga menggagas sesuatu yang jauh lebih besar: mempertahankan dan menghidupkan kembali organisasi mahasiswa Patani sebagai wadah solidaritas, identitas, dan regenerasi kepemimpinan bagi generasi muda Melayu Thailand yang menempuh pendidikan tinggi di Indonesia.

Datangnya pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi tantangan berat bagi Husen dan rekan-rekannya. Aktivitas organisasi mati suri, pertemuan fisik nyaris tidak mungkin, dan arus mahasiswa baru dari Patani terhenti hampir total. Namun situasi itu justru menjadi titik balik. Dalam kesunyiant dan keterbatasan, Husain mulai merancang ulang arah gerak organisasi. Ia berinisiatif menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan dasar seperti pengenalan sejarah dan budaya Patani, pembinaan keislaman, diskusi daring, dan pelatihan kepemimpinan berbasis nilai-nilai tradisi dan keilmuan. Baginya, mempertahankan organisasi bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi bagian dari jihad intelektual dan sosial dalam menjaga eksistensi kaumnya di tanah rantau.

Apa yang dilakukan Husen selama masa pandemi hingga pascapandemi membuahkan hasil yang signifikan. Dalam tempo tiga tahun, ia berhasil menarik minat mahasiswa baru Patani di Lampung untuk terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Komunitas yang semula hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa kembali hidup dengan struktur kepengurusan yang tertata dan program kerja yang jelas. Mereka mengadakan diskusi rutin tentang sejarah perjuangan rakyat Patani, menyusun buletin internal, hingga membangun kerja sama lintas organisasi kampus dan komunitas muslim lokal di Lampung.
Keberhasilan Husain bukan hanya diukur dari capaian organisasional, tetapi juga dari kematangan refleksi akademiknya. Tesis yang ia susun tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah perkembangan organisasi mahasiswa Patani di Lampung, tetapi juga merupakan analisis mendalam tentang dinamika diaspora, identitas, dan perlawanan simbolik atas keterpinggiran yang sering dialami oleh komunitas muslim Patani baik di tanah airnya sendiri maupun di luar negeri. Ia memanfaatkan pendekatan sejarah lisan dengan mewawancarai para perintis dan penggerak organisasi, menyisir arsip dokumentasi internal, dan menganalisis perubahan pola pikir serta sikap sosial para anggota dari masa ke masa.
Di tengah prosesi sidang yang khidmat, sejenak suasana menjadi haru ketika seluruh hadirin berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Husain, dengan suara lantang dan sikap hormat penuh kesungguhan, turut menyanyikan lagu tersebut sebuah momen simbolik yang memperlihatkan keterikatan emosional dan rasa hormatnya pada Indonesia, negara yang telah menjadi rumah kedua baginya dalam menempuh ilmu dan perjuangan.
Dalam sidang munakhosah, para penguji memberikan penghargaan tinggi atas capaian tersebut. Dr. H. Wahyu Iryana, yang akrab disapa Pak Wayan, menyebut bahwa Husain Ismael telah menulis sejarah untuk dirinya sendiri. Ia menilai bahwa perjalanan Husain bukan hanya sebagai pencapaian personal, tetapi sebagai representasi dari perjuangan kolektif mahasiswa Patani dalam menjaga identitas dan eksistensinya di tengah berbagai keterbatasan. Dr. Ahmad Basyori menggarisbawahi pentingnya penelitian Husain sebagai pintu masuk baru bagi kajian diaspora Asia Tenggara di lingkungan akademik Indonesia. Aan Budianto, S.Pd., M.A dan Agus Mahfudin Setiawan, M. Hum selaku pembimbing juga memberi apresiasi pada integritas metodologi dan kedalaman analisis yang digunakan Husain dalam memotret sejarah hidup organisasinya.
Menjadi mahasiswa asing di perguruan tinggi Islam Indonesia bukanlah perkara mudah. Selain harus menghadapi kendala bahasa dan budaya, Husain juga membawa beban harapan dari komunitasnya. Ia dituntut untuk tidak hanya berhasil secara akademik, tetapi juga mampu menjadi penggerak dan contoh bagi generasi Patani berikutnya. Di tengah tekanan itu, ia justru mampu menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang tangguh. Ia menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisi Patani yang kaya dan dinamika kampus Islam modern di Indonesia. Ia tidak hanya belajar dari Indonesia, tetapi juga memberikan sesuatu yang berharga bagi Indonesia yakni perspektif dari komunitas muslim minoritas yang terus berjuang memperjuangkan hak dan identitasnya melalui jalur intelektual dan damai.
Ke depan, Husen merencanakan untuk menuliskan kembali tesisnya dalam bentuk buku populer agar dapat dibaca lebih luas, tidak hanya oleh kalangan akademisi tetapi juga oleh masyarakat umum, terutama komunitas diaspora Patani di Indonesia dan Malaysia. Ia juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan akademisi yang memiliki perhatian terhadap isu-isu diaspora dan pendidikan untuk mengembangkan program literasi sejarah Patani di kalangan pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, salah satu cara paling efektif untuk merawat keberlanjutan organisasi adalah dengan menanamkan kesadaran sejarah dan kebanggaan identitas kepada generasi muda sedini mungkin.
Pencapaian Husen adalah contoh nyata bahwa mahasiswa asing bukanlah beban, melainkan aset penting dalam pembangunan intelektual dan sosial di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia. Ia telah membuktikan bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh para akademisi senior di menara gading, tetapi juga oleh mahasiswa yang memiliki kegigihan, keberanian, dan visi kebangsaan yang melampaui batas-batas negara. Dalam dirinya, perjuangan pribadi dan perjuangan kolektif bertemu dalam satu titik: kesadaran bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar alat untuk meraih gelar, tetapi sarana untuk memperjuangkan martabat dan masa depan komunitasnya.
Hari itu, Kamis 7 Juli 2025, menjadi tonggak sejarah bukan hanya bagi Husen Ismae secara pribadi, tetapi juga bagi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung. Untuk pertama kalinya, seorang mahasiswa asing lulus dengan membawa penelitian yang tak hanya kuat secara akademik, tetapi juga berdampak nyata secara sosial dan kultural. Dalam langkah-langkah Husain menuju podium sidang, terpancar keyakinan bahwa sejarah bukanlah cerita masa lalu semata, melainkan narasi hidup yang ditulis dengan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan akan perubahan. Dan hari itu, sejarah yang ia tulis tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk Patani, untuk Lampung, dan untuk dunia yang lebih adil dan penuh pemahaman terhadap keberagaman.
Dengan demikian, Husain Ismael telah menuntaskan satu fase penting dari perjuangannya, namun bukan berarti usai. Sebaliknya, dari ruang sidang itulah langkah-langkah barunya dimulai sebagai sarjana, sebagai aktivis diaspora, dan sebagai penulis sejarah yang menolak untuk dilupakan. (Kontributor: WI/AB)
