Bandarlampung, 3 September 2025 – Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd. Rahman Hamid, menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom Cloud Meeting pada Rabu (3/9) pukul 09.00–12.00 WIB ini mengangkat tema “Historiografi Maritim dan Kebijakan Kemaritiman” sebagai bagian dari penyusunan Kebijakan Arsip Kemaritiman Tahun Anggaran 2025. Selain menghadirkan Dr. Hamid, FGD juga diisi oleh Koordinator Penyusunan Kebijakan Arsip Kemaritiman, Raistiwar Pratama, dan dibuka secara resmi oleh Direktur Sistem Kearsipan ANRI, F. Kristiartono.
Dalam sambutannya, Kristiartono menekankan pentingnya kajian sejarah maritim untuk mendukung arah pembangunan nasional. “Negara bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Kajian sejarah kemaritiman harus mampu mendukung kebijakan nasional, misalnya peningkatan SDM kemaritiman, revitalisasi ekonomi kelautan, rehabilitasi lingkungan laut, dan konservasi keanekaragaman hayati. Ibarat duduk di kereta dengan jalan mundur, kita melihat masa lalu melalui arsip untuk menatap masa depan,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Dr. Abd. Rahman Hamid menyoroti perlunya penulisan sejarah Indonesia dengan perspektif maritim. “Sejarah nasional tanpa laut tidak lengkap, karena kita adalah Tanah Air,” tegasnya, mengutip pandangan sejarawan A.B. Lapian. Ia juga menilai historiografi Indonesia masih cenderung berfokus pada daratan. Karena itu, pendekatan sea system yang menekankan peran pelayaran, pelabuhan, perdagangan, dan hukum laut perlu lebih diperkuat. “Peran dan fungsi pelabuhan sangat penting dalam membangun jaringan maritim, karena di situlah perdagangan, politik, dan kota pelabuhan saling berkaitan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan peluang besar pemanfaatan arsip ANRI bagi penulisan sejarah maritim, meski tetap ada tantangan metodologis. “Arsip sebagai jejak masa lalu tidak selalu menyediakan informasi spesifik mengenai sejarah maritim. Karena itu, sejarawan harus merumuskan pertanyaan riset yang tepat, lalu tekun, teliti, dan sabar dalam membaca arsip-arsip yang relevan,” papar Abd. Rahman Hamid
Sementara itu, Raistiwar Pratama menambahkan bahwa memori maritim tidak cukup hanya disandarkan pada dokumen tertulis. “Belum ada upaya untuk merekam ingatan para aktor pelabuhan dan kelautan, bukan hanya elit, tapi juga penggagas tradisi. Mereka jarang menulis, lebih sibuk membangun kapal dan menjaga tradisi. Kita bisa membantu agar memori mereka terwarisi lewat wawancara sejarah lisan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa peneliti arsip maritim dituntut lebih tekun dan cermat membaca variasi kata kunci, ejaan, serta konteks agar dapat menemukan jejak kemaritiman secara utuh.
Keterlibatan Dr. Abd. Rahman Hamid dalam forum nasional ini menunjukkan kontribusi nyata akademisi UIN Raden Intan Lampung dalam mendukung kebijakan negara, khususnya di bidang kearsipan dan historiografi maritim.


