Picture11

Bandar lampung, 27 Agustus 2025. Mahasiswa Program studi sejarah Peradaban Islam mengikuti kegiatan seminar kajian Koleksi Kuningan dalam Tradisi Masyarakat Lampung di Museum Negeri Provinsi Lampung. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten di bidangnya, yakni Kian Amboro, M.Pd seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Metro Lampung, Dra. Eko Wahyuningsih, Pamong Ahli Budaya yang telah lama menekuni kajian tradisi dan kearifan lokal, serta I Made Giri Gunadi, S.S.,M.Si kurator senior Museum Lampung. Diskusi ini dimoderatori oleh Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum dosen Prodi SPI UIN Raden Intan Lampung. Peserta seminar tidak hanya berasal dari mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung, tetapi juga dari Prodi Sejarah Pendidikan Universitas Lampung, Universitas Muhammadiyah Metro, dan Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Lampung, sehingga forum tersebut menjadi ruang akademik interdisipliner yang mempertemukan beragam perspektif.

Jalannya seminar berlangsung dinamis dan penuh antusias, Pemaparan materi diawali oleh narasumber pertama Kian Amboro tentang sejarah periodesasi kehidupan manusia hingga mengenal logam dan kuningan pada abad I hingga abad IV dan puncak eksplorasi terjadi pada abad XIV-XV , dan  proses masyarakat Lampung mengenal kuningan. Dalam kerangka ini, masyarakat Lampung diposisikan sebagai bagian dari jejaring globalisasi kuno, di mana Nusantara menjadi melting pot atau titik pertemuan berbagai ekspansi budaya dari luar, yang kemudian menyatu dengan tradisi lokal. Pandangan ini membuka wawasan peserta seminar bahwa sejarah lokal Lampung tidak dapat dilepaskan dari arus peradaban besar dunia.

Selanjutnya, narasumber kedua, Dra. Eko Wahyuningsih, menguraikan dimensi sosio-kultural dari pemanfaatan kuningan dalam siklus kehidupan masyarakat Lampung. Ia menekankan bahwa kuningan tidak sekadar logam hias, tetapi hadir dalam berbagai ritual adat yang sarat makna spiritual dan religius, seperti upacara tolak bala, kelahiran bayi, ritual asah gigi, pernikahan, hingga upacara kematian. Kuningan dalam konteks ini menjadi simbol keberlanjutan budaya yang mampu mengakomodasi berbagai pengaruh keagamaan yang masuk ke Lampung, mulai dari animisme dan dinamisme, ajaran Hindu–Budha, hingga Islam. Sinkretisme ini menjadikan tradisi Lampung kaya warna, di mana nilai-nilai keagamaan dapat hidup berdampingan dengan praktik tradisi berbasis artefak kuningan.

Sesi terakhir diisi oleh I Made Giri Gunadi, yang menampilkan perspektif museologis dengan memperkenalkan secara langsung koleksi kuningan yang tersimpan di Museum Lampung. Melalui presentasinya, peserta diajak untuk lebih dekat mengenal ragam peralatan kuningan, baik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun yang memiliki fungsi simbolik dalam upacara adat. Ia menekankan pentingnya museum sebagai lembaga pelestari warisan budaya, tempat di mana generasi muda dapat belajar memahami identitas dan akar sejarah masyarakat Lampung. Diskusi ini mempertegas peran museum bukan hanya sebagai ruang penyimpanan benda-benda lama, tetapi juga sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pengembangan nilai-nilai kebudayaan.

Secara keseluruhan, seminar ini tidak hanya memperkaya pemahaman peserta tentang fungsi kuningan dalam tradisi masyarakat Lampung, tetapi juga menegaskan arti penting sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan museum dalam membangun kesadaran sejarah dan identitas kebudayaan. Implementasi kerja sama ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam penguatan literasi sejarah dan pelestarian budaya lokal, sekaligus membuka ruang diskusi ilmiah yang produktif bagi mahasiswa lintas kampus di Lampung.